Pengalaman, Opini, dan Harapan

Tulisan Terbaru

Total Tayangan Halaman

Cari Blog Ini

Translate

Pages

PENULIS

Foto Saya
Mantan guru di SD Muh. Condongcatur, Yogyakarta, sekarang asisten guru di Becker Elementary School, Iowa, Amerika.

Tulisan Pilihan

Mengapa Guru di Amerika Mengajarkan Beberapa Cara untuk Menyelesaikan Soal Matematika?

Siswa di Amerika diajari oleh guru dengan beberapa cara untuk menyelesaikan soal Matematika, tidak hanya cara yang dianggap guru paling ...

Popular Posts

Minggu, 23 September 2018

Pendidikan Karakter di SD Amerika


Pendidikan karakter di SD Amerika dilakukan dengan beberapa cara, antara lain integrasi The 7 Habits-Leader in Me dalam pembelajaran, tata tertib kelas (class rules), tata tertib di setiap ruangan selain kelas atau kegiatan sekolah (expectations), pembagian  tugas (job) di kelas, job sekolah, janji setia kepada bendera Amerika, menjadi teman membaca buku (reading buddy) dan mengisi bank kebaikan (bucket filling).

Beberapa sekolah menggunakan The 7 Habits-Leader in Me sebagai salah satu cara untuk mengajarkan dan melatih serta menumbuhkan karakter siswa. The 7 Habits-Leader in adalah cara mendidik karakter kepada siswa dengan 7 kebiasan, yaitu:

Habit 1 - Be Proactive (You're in Charge)
Aku adalah orang yang bertanggung jawab. Aku mengambil inisiatif. Aku memilih perbuatan, perilaku dan keinginanku. Aku tidak menyalahkan orang lain untuk kesalahan yang aku lakukan. Aku melakukan sesuatu yang benar/baik tanpa disuruh, walaupun tidak ada seorang pun yang melihat.

Habit 2 - Begin with The End in Mind (Have a Plan)
Aku menggunakan waktuku untuk melakukan sesuatu yang sangat penting. Ini berarti aku akan bilang "tidak" untuk melakukan sesuatu yang sebaiknya tidak melakukannya. Aku membuat skala prioritas, membuat rencana dan mengikuti rencananya. Aku disiplin dan rapi.

Habit 3 - Put First Things First (Work First, Then Play)
Aku merencanakan apa yang akan aku lakukan dan membuat tujuan-tujuan yang ingin kucapai. Aku melakukan suatu yang bermakna dan membuat sebuah perbedaan. Aku bagian penting di kelas dan berkontribusi untuk visi dan misi sekolah. Aku adalah warga negara yang baik.

Habit 4 - Think Win-win (Everyone Can Win)
Aku seimbang antara mendapatkan hakku dan hak orang lain. Aku membuat tabungan kebaikan kepada orang lain. Ketika ada permasalahan, aku melihat alternatif lain untuk menyelesaikannya.

Habit 5 - Seek First to Understand, Then to Be Understood (Listen Before You Talk)
Aku mendengarkan ide dan perasaan orang lain. Aku mencoba melihat cara pandang mereka. Aku mendegarkan tanpa menyela. Aku percaya diri menyuarakan pendapat atau ideku. Aku melihat ke arah mata orang lain ketika sedang berbicara.

Habit 6 - Synergize (Together is Better)
Aku menghargai kelebihan orang lain dan belajar dari mereka. Aku bergaul dengan baik bersama orang lain walaupun mereka berbeda denganku. Aku bekerja dengan baik dalam kelompok. Aku melihat ide orang lain untuk menyelesaikan masalah karena aku tahu bahwa bekerjasama dalam tim kami bisa membuat solusi yang lebih baik dari pada sendiri. Aku seorang yang rendah hati.

Habit 7 - Sharpen The Saw (Balance Feels Best). 
Aku peduli dengan tubuhku dengan makan makanan bergizi, olahraga, dan tidur yang cukup. Aku memanfaatkan waktu bersama keluarga dan teman. Aku belajar dengan berbagai cara dan tempat, tidak hanya di sekolah. Aku menemukan kebahagian dengan menolong orang lain.

Kebiasan-kebiasan tersebut dintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Misalnya ketika guru memberikan tugas individu, siswa diingatkan untuk menyelesaikan dulu tugasnya, siswa yang sudah selesai bisa membantu temannya, membaca buku yang disukai atau latihan soal Matematika online di komputer kelas. Guru dan staff sekolah diberi pelatihan rutin untuk menerapkan dan mengevaluasi pelaksanaan program The 7 Habits. Tujuh kebiasaan tersebut tidak hanya dilakukan di sekolah tetapi juga diharapkan diterapkan di rumah dan di manapun.

Setiap kelas membuat tata tertib sendiri-sendiri yang dibuat bersama guru dan siswa pada awal tahun ajaran baru. Tata tertib kelas juga mengacu atau menyertakan The 7 Habits. Selain tata tertib, kelas juga membuat mission statements. Mission statements berisi tentang hal-hal yang akan dicapai atau dilakukan di kelas setiap harinya.

Tata tertib kelas
The 7 Habits juga diintegrasikan dengan expectations di setiap ruangan selain kelas atau kegiatan sekolah. Semua siswa dilatih untuk mengikuti expectations setiap awal semester dan sering diingatkan kembali. Pada awal semester setiap kelas secara bergantian akan dilatih tentang expectations di setiap ruangan atau kegiatan sekolah. Expectations antara lain di hallway (lorong kelas), kamar mandi, ruang makan, playground (area bermain), perpustakaan, laboratorium komputer, dan kegiatan assembly. Expectations tersebut juga ditempel di setiap ruangan agar mudah dibaca dan untuk mengingatkan kepada setiap siswa untuk selalu mengikutinya.

Berikut contoh-contoh expectations di beberapa tempat:

Expectations di ruang makan

Expectations di area bermain
Expectations di kamar mandi
Expecatations di ruang oleh raga (gym)
Expectations di tempat minum
Expectations saat masuk sekolah
Expectations di lorong kelas
Untuk menumbuhkan karakter kepemimpinan dan tanggung jawab siswa diberi kesempatan untuk melamar pekerjaan/tugas di kelas dengan mengisi lembar aplikasi. Sebelum siswa mengisi lembar aplikasi terlebih dahulu guru memberikan penjelasan tentang jenis-jenis pekerjaan dan tugas-tugas-tugasnya. Lembar aplikasi berisi tentang identitas siswa dan esai tentang mengapa siswa layak untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan dan persetujuan orang tua. Semua siswa mendapat pekerjaan yang disesuaikan dengan keinginan dan ada juga karena pertimbangan guru. Jenis-jenis pekerjaan kelas antara lain: asisten guru, pengecek makan siang, asisten kesehatan, peruncing pensil, pengambil snack dan food bag.

Jenis-jenis pekerjaan kelas
Selain pekerjaan kelas, sekolah juga menawarkan beberapa perkerjaan yang diharapkan bisa membentuk karakter kepemimpinan siswa. Penawaran pekerjaan sekolah dilakukan dengan kegiatan job fair. Setiap kelas 3-5 secara bergiliran menghadiri job fair. Setiap jenis pekerjaan memiliki stan dengan poster yang berisi tentang jenis pekerjaan, tugas-tugas, dan kualifikasinya. Siswa yang bekerja pada tahun ajaran sebelumnya bertugas untuk menunggu, menjelaskan tentang pekerjaan dan menjawab pertanyaan siswa yang sedang berkunjung. Pada hari berikutnya siswa diberi lembar aplikasi pekerjaan yang harus diisi dan dikumpulkan kepada guru kelas bagi siswa yang tertarik. Beberapa jenis pekerjaan yang ditawarkan saat job fair seperti di bawah ini:

Becker Ambassador
Assembly Leader
Office Leader
Recess Friend
Bus Leader
Service Leader
Music Leaders Choir
Untuk menumbuhkan karakter nasionalisme setiap pagi siswa mengucapkan janji setia kepada bendera Amerika (the pledge of alligiance) dan janji siswa kepada sekolah. Janji setia ini dilakukan sebelum pelajaran dimulai dengan menghadap ke arah bendera dan meletakkan tangan kanan di atas dada kiri.

Janji setia kepada bendera Amerika
Janji kepada sekolah
Siswa kelas 4 dan 5 menjadi teman membaca untuk siswa pre kindergarten dan kindergarten. Setiap seminggu sekali mereka berkunjung ke kelas pre kindergarten dan kindergarten (TK) untuk membacakan buku cerita kepada salah satu siswa selama sekitar 20 menit. Biasanya 1 siswa pre kindergarten atau kindergarten ditemani oleh 2 orang siswa kelas 4 atau 5.

Teman membaca buku (Becker facebook)
Kebaikan sekecil apapun dianjurkan untuk diapresiasi. Salah satu cara mengapresiasi kebaikan orang lain adalah dengan mengisi bank kebaikan dengan cara menuliskan pada selembar kertas rekat (sticky note) kepada guru atau teman yang telah berbuat baik sebagai ucapan terima kasih atau apresiasi kemudian ditempelkan di papan atau dinding yang disediakan.  

Sabtu, 09 Juni 2018

Modul Pelatihan untuk Guru dan Asisten Guru Childcare di Amerika



Saya pernah bekerja sebagai asisten guru di Grin and Grow Childcare di Waterloo, Iowa bulan Maret sampai Juni tahun 2017 dan akan berkerja selama summer tahun ini di program Summer Daze 2018. Kedua pekerjaan saya tersebut menuntut untuk mengikuti pelatihan tentang materi-materi dasar dan penting (essential) tentang childcare.

Berikut ini adalah modul-modul pelatihan yang saya ikuti, semoga bermanfaat bagi guru atau karyawan yang berkerja di childcare. Materi pelatihan tentu saja sesuai dengan keadaan dan regulasi di Amerika khususnya di negara bagian Iowa, sehingga tidak semuanya cocok dengan keadaan dan regulasi di Indonesia. Silakan bisa didownload di link berikut:

Siswa Amerika Belajar Menulis Bersama Penulis



Beberapa waktu yang lalu Waterloo Public Library mengundang semua siswa kelas 5 sekolah dasar di kota Waterloo untuk menghadiri kegiatan bersama penulis, Rob Buyea. Rob Buyea merupakan penulis buku cerita anak yang cukup terkenal di Amerika. Sebelum menjadi penulis beliau adalah seorang guru sekolah dasar. Cukup banyak penulis buku baik fiksi maupun non fiksi di Amerika yang dulunya adalah guru.

Kegiatan ini bertujuan untuk menginspirasi siswa agar semangat belajar menulis serta diskusi dan sharing tentang bagaimana tips atau pengalaman Rob Buyea menulis cerita. Kegiatan menghadirkan ahli dalam bidang tertentu untuk menginspirasi siswa memang salah satu program sekolah baik yang diadakan sekolah atau distrik (seperti dinas pendidikan di Indonesia) maupun instansi lain.

Berikut ini adalah tips menulis cerita non fiksi dari Rob Buyea yang saya rangkum:

Kamis, 15 Februari 2018

Mengapa Guru di Amerika Mengajarkan Beberapa Cara untuk Menyelesaikan Soal Matematika?



Siswa di Amerika diajari oleh guru dengan beberapa cara untuk menyelesaikan soal Matematika, tidak hanya cara yang dianggap guru paling baik, mudah ataupun efektif. Sebelum tahun 2000, siswa hanya diajarkan satu cara yang dianggap paling efektif oleh guru untuk menyelesaikan soal Matematika. Siswa memperhatikan guru saat memberi contoh menyelesaikan soal Matematika dengan satu cara di papan tulis dan siswa kemudian menyalinnya di buku tulis. Cara tersebut digunakan siswa untuk menyelesaikan latihan-latihan soal yang lain.

Manfaat Diajarkannya Beberapa Cara untuk Menyelesiakan Soal Matematika
Soal Matematika bisa diselesaikan dengan berbagai cara. Guru yang memaksakan hanya menggunakan satu cara yang dianggap paling baik untuk menyelesaikan soal Matematika akan membuat siswa banyak kehilangan kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuan berfikir mereka. Mengajarkan siswa dengan berbagai cara dalam menyelesaikan soal Matematika juga merupakan cara alamiah otak bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Ketika berbelanja di toko, maka otak bekerja dengan cepat untuk menghitung harga barang yang harus kita bayar dengan cara memperkirakan, membulatkan, menggandakan ataupun menghitung setengahnya. Dengan mengajari siswa berbagai cara untuk menyelesaikan soal Matematika membantu siswa menuangkan apa yang ada dalam pikirannya di atas kertas. Setiap siswa mempunyai cara yang berbeda-beda dalam memahami dan memecahkan soal Matematika sesuai dengan kemampuan berfikir, pengetahuan sebelumnya, dan pengalaman. Siswa diharapkan mempunyai cara menyelesaikan soal Matematika dengan cara mereka sendiri yang menurut mereka paling efektif sehingga menumbuhkan kepercayaan diri bahwa mereka mampu menyelesaikan soal Matematika. Ketika siswa sudah mengetahui cara mereka sendiri kemudian mereka bisa menggunakannya untuk menyelesaikan soal yang lebih kompleks (digit yang kebih banyak). Dampaknya adalah siswa menjadi lebih semangat dalam belajar Matematika dan terus belajar karena mereka belajar berdasarkan tingkat kemampuan berfikir dan pengetahuan serta pemahaman mereka. 

Apakah Siswa diajari Cara Algoritma?
Algoritma adalah cara singkat untuk menyelesaikan soal Matematika tetapi akan sulit dipahami oleh sebagian siswa karena abstrak. Oleh karena itu sebelum diajarkan cara algoritma, siswa harus mengerti dan memahami bagaimana cara algoritma bekerja. Siswa diajarkan dengan berbagai cara untuk menyelesaikan soal Matematika yang pada dasarnya merupakan runtutan cara yang sesuai dengan tingkat kemampuan berfikir siswa yang pada akhirnya diarahkan menuju pemahaman cara standar algoritma.

Sumber bacaan:

Minggu, 04 Februari 2018

Pembelajaran Menulis Ringkasan Teks Non Fiksi di SD Amerika



Membuat ringkasan teks atau bacaan non fiksi merupakan bagian dari kegiatan pelajaran menulis di kelas 4. Kegiatan ini terus dilakukan berkali-kali sampai materi bacaan non fiksi dalam pelajaran Menulis dan Membaca selesai.

Meringkas bacaan non fiksi seperti halnya membuat tulisan non fiksi menggunakan pedoman pertanyaan 5W dan 1H, yaitu what, who, where, when, why, dan how. Berikut ini adalah langkah-langkah dalam pembelajaran menulis ringkasan bacaan non fiksi di kelas 4:

Diskusi Bagaimana Membuat Ringkasan (Summarize)
Pembelajaran diawali dengan mengingatkan siswa tentang pedoman dalam menulis bacaan non fiksi yaitu pertanyaan 5W dan 1H, demikian juga dalam membuat ringkasan bacaan non fiksi juga berpedoman hal yang sama.
What are we learning about, apa yang sedang kita pelajari?
Who are we talking about, siapa yang sedang kita bicarakan?
Where is this taking place, di mana tempat terjadinya hal/peristiwa ini?
When is this information happening, kapan terjadinya hal/peristiwa ini?
Why is this happening, mengapa hal/peristiwa ini terjadi atau penting?
How is this happening, bagaimana hal/peristiwa ini terjadi?
Catatan: tidak semua pertanyaan bisa dijawab atau ada dalam bacaan, oleh karena itu hanya pertanyaan yang bisa /ada dalam bacaan yang digunakan.

Diskusi Membuat Ringkasan Cerita Fiksi
Guru menampilkan sebuah teks di board dengan projector. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi membuat peta konsep menggunakan pedoman pertanyaan 5W dan 1H. Guru memberi contoh merangkai peta konsep menjadi kalimat dan paragraf dengan bahasa sendiri menjadi ringkasan bacaan.

Membaca Buku/Bacaan Non Fiksi dan Membuat Peta Konsep
Siswa memilih buku non fiksi yang disukai dari perpustakaan kelas atau bacaan yang disiapkan guru. Kegiatan selanjutnya siswa membaca buku atau bacaan tersebut tanpa bersuara sekitar 10-30 menit sambil membuat peta konsep dengan berpedoman pada pertanyaan 5W dan 1H. Jika belum selesai bisa dilanjutkan pada pembelajaran hari berikutnya.

Peta konsep

Menulis Ringkasan dengan Bahasa Sendiri
Siswa kemudian merangkai pertanyaan dan jawaban dalam peta konsep menjadi kalimat dan paragraf dengan bahasa mereka sendiri.

Mengedit Tulisan
Sebelum tulisan diserahkan kepada guru, siswa mengeditnya baik ejaan kata maupun kalimat. Siswa biasanya menulis ulang tulisan agar lebih rapi.

Membacakan Tulisan di Depan Guru dan atau Menyerahkan ke Guru
Tulisan yang sudah diedit dan atau ditulis ulang kemudian di serahkan kepada guru dan atau siswa diminta membacakan di depan guru bersama 3-5 siswa dalam kelompok kecil. Kemudian guru memberikan masukan, pujian, dan koreksi. Masukan dan koreksi guru bisa dalam hal ejaan kata, kalimat, maupun isi bacaan.

Merevisi Tulisan
Siswa merevisi tulisan berdasarkan masukan dan koreksi dari guru.

Membacakan Tulisan di Depan Kelas
Beberapa siswa secara sukarela atau diundi membacakan tulisannya di depan kelas. Biasanya ada tanya jawab atau diskusi pendapat siswa yang lain jika bacaan yang diringkas sama satu kelas untuk memberi kesempatan siswa lain yang mungkin berbeda pendapat dalam menentukan poin-poin yang dianggap penting dalam sebuah teks.

Minggu, 28 Januari 2018

Pembelajaran Menulis Ringkasan Cerita Fiksi di SD Amerika



Seperti yang sudah saya sampaikan pada tulisan-tulisan sebelumnya bahwa mata pelajaran Menulis merupakan salah satu mata pelajaran pokok di SD Amerika selain pelajaran Matematika dan Membaca. Setiap hari ada pembelajaran menulis. Pada tulisan kali ini saya ingin berbagi cerita bagaimana tahapan pembelajaran menulis ringkasan (summary) untuk cerita fiksi di kelas 4. Pembelajaran menulis cerita fiksi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

Diskusi Bagaimana Membuat Ringkasan (Summarize)
Pembelajaran diawali dengan curah pikiran bagaimana menurut pendapat siswa cara membuat ringkasan cerita fiksi. Guru memimpin diskusi tersebut dan mencatat poin-poin penting atau kata kunci pendapat siswa. Guru kemudian membantu merangkum poin-poin pendapat siswa disesuaikan dengan teori cara membuat ringkasan cerita fiksi.
Berikut ini adalah poin-poin yang harus ada dalam ringkasan cerita fiksi:
Somebody, who are the main characters? (Siapa tokoh-tokoh utama dalam cerita?)
What, what did the characters want? (Apa yang diinginkan tokoh-tokoh utama?)
But, what problems or obstacles did they face? (Apa masalah atau rintangan yang mereka hadapi?)
So, how did they try to solve their problems? (Bagaimana mereka mencoba untuk menyelesaikan masalah tersebut?)
Then, what was the resolution? How did the story end? (Apa penyelesaian masalah tersebut? Bagaimana cerita berakhir?)
Dalam pembelajaran lain juga pernah disampaikan tentang poin-poin atau unsur-unsur lain dalam membuat ringkasan cerita fiksi, yaitu:
Character, who is in the story? (Tokoh utama, siapa yang ada dalam cerita?)
Setting, where does the story take palce? (Latar, di mana cerita terjadi?)
Problem (masalah yang dihadapi tokoh utama)
Solution (penyelesaian masalah)
Moral of the story (nilai-nilai yang terkandung dalam cerita)

Diskusi Membuat Ringkasan Cerita Fiksi
Guru membacakan sebuah cerita di depan kelas. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi mengidentifikasi poin-poin dalam cerita. Guru memberi contoh merangkai poin-poin cerita menjadi kalimat dan paragraf dengan bahasa sendiri menjadi ringkasan cerita.

Membaca Buku Cerita Fiksi dan Mengidentifikasi Poin-poin Cerita
Siswa memilih buku cerita fiksi yang disukai dari perpustakaan kelas, siswa juga diperbolehkan membawa buku dari rumah. Kegiatan selanjutnya siswa membaca buku tersebut tanpa bersuara sekitar 20 menit sambil mengidentifikasi dan mencatat poin-poin dalam cerita pada buku atau kertas rekat. Jika belum selesai bisa dilanjutkan pembelajaran berikutnya.

Merangkum Poin-poin dalam Cerita
Poin-poin dalam cerita yang sudah diidentifikasi kemudian dirangkum dan ditulis dalam tabel seperti berikut.


Who
What
But
So
Then






Siswa juga diperbolehkan menulis rangkuman poin-poin tidak menggunakan tabel, sesuai dengan kesukaan masing-masing siswa.

Merangkai Poin-poin Cerita Menjadi Kalimat dan Paragraf
Siswa kemudian merangkai poin-poin cerita menjadi kalimat dan paragraf dengan bahasa mereka sendiri.

Mengedit Tulisan
Sebelum ringkasan cerita diserahkan kepada guru, siswa mengedit tulisan baik ejaan kata maupun kalimat. Siswa biasanya menulis ulang tulisan agar lebih rapi.

Membacakan Tulisan di Depan Guru dan atau Menyerahkan ke Guru
Tulisan yang sudah diedit dan atau ditulis ulang kemudian di serahkan kepada guru dan atau siswa diminta membacakan di depan guru bersama 3-5 siswa dalam kelompok kecil. Kemudian guru memberikan masukan, pujian, dan koreksi. Masukan dan koreksi guru bisa dalam hal ejaan kata, kalimat, maupun poin-poin cerita.

Merevisi Tulisan
Siswa merevisi tulisan berdasarkan masukan dan koreksi dari guru.

Membacakan Cerita di Depan Kelas
Beberapa siswa secara sukarela atau diundi membacakan tulisannya di depan kelas.

Kegiatan membuat ringkasan ini terus dilakukan selama pembelajaran Membaca dan Menulis materinya masih tentang cerita fiksi.

Baca juga tulisan tentang: Pembelajaran Menulis Cerita Fiksi di SD Amerika

Minggu, 14 Januari 2018

Pembelajaran Matematika Pembagian dengan Sisa di SD Amerika


Pembagian dengan sisa (mathisfun.com)
Pembagian dengan sisa akan menghasilkan jawaban yang berbeda jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari walaupun angkanya sama. Berikut ini beberapa situasi dan cara menyelesaikan soal pembagian dengan sisa yang dipelajari di kelas 4 di sekolah tempat saya bekerja.

Situasi 1 (membagi siswa dalam kendaraan):

Siswa kelas 4 SD Tunas Harapan yang berjumlah 110 akan melakukan trip ke Gunung Purba Nglanggeran, Gunung Kidul. Sekolah akan menyewa beberapa bus untuk mengantar siswa untuk kegiatan ini. Setiap bus yang akan disewa mempunyai 20 tempat duduk. Berapa jumlah bus yang diperlukan?

110 : 20 = ?

110 = 100 + 10
100 : 20 = 5 sisa 10

5 bus bisa membawa 100 siswa, tetapi masih ada 10 siswa yang membutuhkan bus, maka sekolah perlu menyewa 6 bus agar semua siswa bisa berangkat.

Jawaban: jumlah bus yang diperlukan adalah 6.

Catatan: ketika siswa disuruh menjawab soal ini bisa juga muncul berbagai jawaban yang benar dan logis. Misalnya, jumlah bus yang diperlukan 5 karena 10 anak tetap bisa ikut dengan menambah kursi darurat atau berdiri. Mungkin juga ada yang menjawab, jumlah bis yang disewa 5 untuk membawa 100 siswa, sedangkan 10 siswa lainnya naik mobil guru.

Situasi 2 (membagi benda yang tidak sewajarnya dipotong):

Seorang guru ingin menghadiahi pensil dengan jumlah yang sama kepada 20 siswanya. Guru tersebut mempunyai 110 pensil. Berapa jumlah pensil yang diterima setiap siswa?

110 : 20 = 5 sisa 10

Bukan sebuah cara yang wajar memotong pensil sisanya kemudian diberikan kepada siswa, maka guru bisa menyimpan 10 pensil tersebut.

Jawaban: setiap siswa mendapatkan 5 pensil.

Situasi 3 (membagi uang):

Pada sebuah kegiatan market day di SD Sinar Bangsa, kelas 4 yang berjumlah 20 siswa berhasil menjual sejumlah barang dagangan mereka dan mendapatkan keuntungan Rp 110.000,00. Mereka ingin membagi keuntungan dengan jumlah yang sama. Berapa jumlah uang yang didapat setiap siswa?

110.000 : 20 = 5.000 sisa 10.000

Uang bisa dibagi menjadi nilai yang lebih kecil. Sisa Rp 10.000,00 bisa dibagi 20 menjadi Rp 500,00 sehingga setiap siswa mendapatkan Rp 5.500,00.

Jawaban: setiap siswa mendapatkan Rp 5.500,00.

Catatan: uang $110 cukup besar nilainya sehingga bisa dijadikan contoh soal dengan angka yang sama dengan soal-soal lainnya, tetapi Rp 110 terlalu kecil nilainya dan tidak masuk akal dijadikan contoh untuk perhitungan jumlah uang dalam kegiatan nyata sehari-hari.

Situasi 4 (membagi benda yang wajar dipotong):

Pada kegiatan kerja bakti sekolah setiap kelas mendapatkan 110 bungkus roti sebagai snack termasuk kelas 4 yang berjumlah 20 siswa. Berapa jumlah roti yang diterima setiap siswa?

110 : 20 = 5 sisa 10

Setiap siswa mendapatkan 5 bungkus roti. Kemudian 10 bungkus roti sisanya masing-masing bisa dibagi menjadi dua bagian. Sehingga setiap siswa mendapatkan tambahan setengah bagian roti.

Jawaban: setiap siswa mendapatkan 5 1/2 bungkus roti.

Catatan: ada kemungkinan jawaban siswa yang lain, misalnya sisa 10 bungkus roti diberikan kepada guru atau kelas lain yang jumlah siswanya lebih banyak. Setiap jawaban siswa yang masuk akal (mereka bisa menjelaskan alasannya) adalah benar.

Baca juga tulisan tentang: Pembelajaran Matematika Pembagian di SD Amerika

Sabtu, 13 Januari 2018

Pembelajaran Matematika Pembagian di SD Amerika


Pembelajaran pembagian di kelas 4 digunakan untuk menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan situasi sebuah pembagian (a sharing situation) dan sebuah pengelompokkan (a grouping situation).
Siswa bisa menggunakan beberapa cara untuk menyelesaikan soal pembagian yang dinilai paling mudah dan atau efektif. Berikut ini beberapa cara yang digunakan siswa di kelas 4 yang saya dampingi.

Ilustrasi soal: Siswa kelas 4 yang berjumlah 144 akan melakukan kegiatan kunjungan ke museum. Sekolah menyediakan 6 bus untuk kegiatan tersebut. Berapa jumlah siswa setiap bus?

Cara 1 (mengubah menjadi perkalian):

Pembagian dan perkalian merupakan operasi yang berkebalikan, sehingga pembagian bisa diubah menjadi perkalian.

144 : 6 = ?

Mencoba mengalikan 6 sehingga mencapai 144.

6 x 10 = 60 (dicoba mengalikan dengan angka yang mudah atau angka bulat)
6 x 10 = 60
6 x 4 = 24
10 + 10 + 4 = 24

6 x 24 = 144
144 : 6 = 24

Cara 2 (mengurutkan kelipatan angka pembagi):

Mengurutkan kelipatan 6 sehingga mencapai 144.

6, 12, 18, 24, 30, 36, 42, 48, 54, 60, 66, 72, 78, 84, 90, 96, 102, 108, 114, 120, 126, 132, 138, 144

Kemudian menghitung jumlah semua urutan angka yang merupakan jawabannya, yaitu 24.

Cara 3 (mengelompokkan angka):

Mengelompokkan angka atau titik atau garis (biting dalam bahasa Jawa) dalam lingkaran sebanyak 6 kelompok dan menghitungnya sehingga mencapai 144.

Cara bitingan

Cara 4 (memecah angka yang dibagi):

144 = 120 + 24 (memecah 144 menjadi dua angka yang mudah dibagi dengan 6)
120 : 6 = 20
24 : 6 = 4
20 + 4 = 24

Catatan: belum diajarkan pembagian bersusun (poro gapit dalam bahasa Jawa)

Baca juga tulisan tentang: Pembelajaran Matematika Perkalian di SD Amerika

Minggu, 07 Januari 2018

Pembelajaran Matematika Perkalian di SD Amerika


Menyelesaikan soal perkalian dengan berbagai cara
Di kelas 4 siswa belajar tentang bagaimana menyelesaikan soal perkalian dengan faktor 2 angka (puluhan). Perkalian bisa digunakan untuk menghitung jumlah susunan benda yang teratur dengan jumlah sama (array), pengelompokkan benda dengan jumlah sama (equal group), penjumlahan berulang (repeated addition) dan kombinasi (combination). Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menyelesaikan soal perkalian seperti di bawah ini.

Ilustrasi soal susunan benda teratur: Perpustakaan sekolah mempunyai 27 rak buku. Setiap rak terdapat 25 buku. Berapa jumlah semua koleksi buku di perpustakaan?

Cara 1 (memecah satu bagian angka):

27 = 20 + 4 + 3 (memecah 27 menjadi 20, 4 dan 3)

20 x 25 = 500
4 x 25 = 100
3 x 25 = 75
500 + 100 + 75 = 675

atau

25 = 20 + 5 (memecah 25 menjadi 20 dan 5)

27 x 20 = 540
27 x 5 = 135
540 + 135 = 675

Cara 2 (memecah dua angka):

27 = 20 + 7
25 = 20 + 5

Langkah pertama:
20 x 20 = 400
7 x 20 = 140
400 + 140 = 540

Langkah kedua:
20 x 5 = 100
7 x 5 = 35
100 + 35 = 135

Gabungkan hasil langkah pertama dan kedua:
540 + 135 = 675

Cara 3 (membulatkan salah satu angka):

27 + 3 = 30 (menambahkan 3)

30 x 25 = 750
3 x 25 = 75
750 - 75 = 675 (hasil dikurangi 3 x 25)

Cara 4 (membuat perkalian setara):

a. Menggandakan salah satu angka dan membuat setengah satu angka lainnya:

Ilustrasi soal pengelompokkan benda: Korban banjir di dusun Sompok mendapatkan bantuan sembako dari siswa-siswa SD Pelangi sebanyak 35 kardus. Masing-masing kardus berisi 18 paket. Berapa jumlah semua paket sembako?

35 x 2 = 70 (digandakan)
18 : 2 = 9 (dibuat setengahnya)

70 x 9 = 630

b. Mengalikan 3 salah satu angka dan membagi 3 satu angka lainnya:

Ilustrasi soal kombinasi: Mahya mempunyai satu set mainan dress up yang berisi 15 macam celana dan 24 macam baju. Berapa kombinasi paduan antara celana dan baju yang bisa dibuat?

15 x 3 = 45 (dikalikan 3)
24 : 3 = 8 (dibagi 3)

45 = 40 + 5
40 x 8 = 320
5 x 8 = 40
320 + 40 = 360

Catatan: belum diajarkan cara perkalian bersusun.

Baca juga tulisan tentang: Pembelajaran Matematika Pengurangan di SD Amerika

Sabtu, 06 Januari 2018

Pembelajaran Matematika Pengurangan di SD Amerika


Ada beberapa cara atau strategi yang digunakan dalam memecahkan soal pengurangan dalam pembelajaran di kelas. Seperti halnya cara yang digunakan untuk memecahkan soal penjumlahan, siswa bisa menggunakan salah satu atau beberapa cara yang paling dikuasai dan atau paling mudah. Berikut ini beberapa cara pengurangan yang digunakan siswa di kelas 4 yang saya dampingi.

Ilustrasi soal: Hary mempunyai kelereng sejumlah 452. Ia memberikan 127 kelereng kepada adiknya. Berapa jumlah kelereng yang dimiliki Hary sekarang?

Cara 1 (Algoritma):

     4 12 (meminjam 10)
  452
-127
 325

atau bentuk panjang:

                                   40        12  
   452 = 400 + 50 + 2
- 127 = 100 + 20 + 7
    325 = 300 + 20 + 5

Cara 2 (mengurangi per bagian):

452 - 100 = 352 (ratusan)
352 - 20 = 332 (puluhan)
332 - 7 = 325 (satuan)

Cara 3 (menambahkan per bagian):

127 + 100 = 227 (ratusan)
227 + 100 = 327
327 + 100 = 427
427 + 20 = 447 (puluhan)
447 + 5 = 452 (satuan)
100 + 100 + 100 + 20 + 5 = 325

atau

127 + 300 = 427
427 + 20 = 447
427 + 5 = 452
300 + 20 + 5 = 325

Dengan bantuan garis

Cara 4 (mengurangkan ke belakang):

452 - 52 = 400
400 - 200 = 200
200 - 50 = 150
150 - 20 = 130
130 - 3 = 127
52 + 200 + 50 + 20 + 3 = 325

Dengan bantuan garis

Cara 5 (membulatkan angka):

452 - 130 = 322 (pengurang ditambah 3)
322 + 3 = 325 (karena pengurang ditambah 3, maka hasilnya ditambah 3)

atau

452 (+3) - 127 (+3) = (semua angka ditambah 3)
455 - 130 = 325

Baca juga tulisan tentang: Pembelajaran Matematika Penjumlahan di SD Amerika